Polibatam Jadi Sampel Peta Pendanaan Riset

Selasa, 31 Oktober 2017 | 15:59 WIB


Polibatam Jadi Sampel Peta Pendanaan Riset

Batam, RISET Pro.

 

RISET Pro (Research and Innovation in Science and Technology Project), melalui Komponen 2, melakukan kunjungan lapangan ke Politeknik Negeri Batam, Kepulauan Riau, 27 Oktober 2017. ), wawancara dan kunjungan lapangan dilakukan untuk memetakan berbagai isu penting untuk penguatan lembaga pendanaan riset dan perbaikan tata-kelolanya.  Hadir  dari Tim RISET Pro : Derry Pantjadarma, Irsan Aditama, Rinaldi, dan Ahmad Hadi Hardilani, sedang dari Politeknik Negeri Batam (Polibatam) terdiri dari Daniel Sutopo Pamungkas (Kepala PPM Polibatam), Riwinoto, Fida dan tim.

 

         

 

Politeknik Negeri Batam (Polibatam) diresmikan tahun 2010  menyusul perubahan status dari Polteknik swasta yang didirikan Otorita Batam tahun 2000. Sampai tahun 2017 berstatus perguruan tinggi dalam klaster pembinaan dan sekarang sudah masuk ke klaster Madya dan sudah berhak mengikuti seleksi proposal yang  lebih tinggi dari pada skema insentif  Dosen Muda.

Politeknik ini memiliki 4 jurusan dengan 14 program studi dan sekitar 3000 an mahasiswa, 6 dosen S-3 dan 5 Lektor Kepala , sekitar 70 Dosen dengan visinya menjadi salah satu pusat unggulan di kawasan ASEAN. Jenis riset yang dilakukan beorientasi pada penerapan di industri dan merupakan riset lintas disiplin ilmu. Kegiatan diorganisasikan ke dalam 12 KKT ( Kelompok Keilmuan ) dan 4 PK ( Program Kajian ) dan menjalankan riset dengan 3 sumber pendanaan yaitu : Insentif Kemenristekdikti berupa dana 17 proposal Penelitian Dosen Muda @ Rp.20.000.000, DIPA Lembaga sebesar maksimal 10% dari nilai anggaran  ( Rp. 40-50 Miliar/tahun pada tahun 2016) atau sekitar Rp.500.000.000 , Mandiri berupa prakarsa setiap tim riset untuk membiayai swadaya ( pembuatan alat, pembelian bahan dan lain-lain)

Sumber pendanaan lain adalah dari industri berupa proyek-proyek misalnya; perbaikan sistem produksi, pelatihan  karyawan,  penyempurnaan alat dan lain-lain. Kerjasama riset belum berjalan karena  terkendala isu-isu seperti rahasia perusahaan, kepemilikan HKI dan komersialisasi.

Walaupun demikian,  saat ini sedang berjalan kerjasama riset luar negeri dengan sebuah perusahaan rintisan ( start-up) dari Singapura untuk mengembangkan robot  pendidikan /pengajaran bahasa Inggris dan Mandarin bagi anak usia dini. Proyek ini  dijalankan oleh periset dari Politeknik Negeri Batam bersama 1 orang  peneliti dari Johor Malaysia. Pihak Singapura bertanggungjawab pada mentoring dan pendanaan sedangkan dari Indonesia menyediakan SDM  untuk pengembangan konten pengajarannya. Robot nya sendiri dibeli dari Tiongkok dan dana berasal dari hibah Pemerintah Singapura khusus bagi start-up companies. Kerjasama dipayungi oleh MoU selama 3 tahun ( 2017-2020 ) dimana aspirasi Politeknik untuk publikasi ilmiah dan HKI diakomodir. Aspek komersial tetap dipegang oleh pihak Singapura.

Kegiatan di atas dijalankan oleh Unit Bisnis bernama SoluStar Innovation Centre dan saat ini juga memiliki proyek-proyek lain seperti ERP dan pengembangan animasi serta game,  dengan customernya berasal dari Singapura dan Vietnam.

Terkait pengorganisasian terkait kegiatan riset dan kerjasama industri 2 unit penting  adalah: Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat di bawah Wakil Direktur I ( berdiri tahun 2010 ), dan  Unit Bisnis  ‘Solustar Innovation Centre’ di bawah Wakil Direktur III ( berdiri tahun 2015).

 

Salah satu mitra industri penting adalah PT Kinema yang bergerak di bidang animasi dan multimedia disamping mitra dari pemerintahan seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bank Indonesia dan Pemerintah daerah.

Politeknik juga memiliki teaching factory  dan sudah mendapat dukungan anggaran dari Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti dan juga,  revitalisasi Politeknik untuk Prodi Penerbangan dari Ditjen lainnya di Kementerian yang sama.

Sebagai penerima dana insentif, Politeknik Negeri Batam ini juga masuk ke dalam Simlitabmas dan menggunakan SBK sesuai PMK No:106/2016 ( obyek audit adalah peneliti dan reviewer, bukan LPPM).

Hal ini mengacu pada tahun 2017,  kegiatan RISET Pro yang dilakukan adalah monev pelaksanaan penguatan sistem tata kelola lembaga dan penyempurnaan rekomendasi tentang system tata kelola dan , pendanaan riset intensif/ riset terapan yang efektif dan efisien.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *