Kemenristekdikti Dorong Masyarakat Percaya IPTEK, Bukan Hoax

Sabtu, 4 November 2017 | 18:24 WIB


Kemenristekdikti  Dorong Masyarakat Percaya IPTEK, Bukan Hoax

Jakarta, RISET-Pro

Saat ini, banyak masyarakat yang cenderung mempercayai hoax atau hal tidak rasional yang beredar di berbagai media, termasuk media sosial, tanpa mempertimbangkan kebenaran kabar tersebut dari fakta ilmu pengetahuan.  Sedangkan ada temuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk pemanfaatan nuklir yang kerap dipandang sebelah mata. Inilah mengapa, Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) ingin menerapkan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan melalui komunikasi sains (scince communication) yang bertujuan untuk mengekspos berbagai manfaat nuklir dan pengembangan riset lainnya.

“Indonesia ini kan bangsa yang besar, kita harus menjadi bangsa yang berlandaskan iptek. Dengan begitu, kita tidak akan mudah tertipu pada hal-hal yang tidak masuk akal, ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Ali Gufron Mukti.

Agar penerapan komunikasi sains efektif secara menyeluruh di masyarakat menurut Gufron, Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Komunikasi sains bukan hanya antar peneliti saja, tetapi antara peneliti dan non peneliti.

“Disinilah akademisi dirasa turut berperan penting untuk memulai melakukan komunikasi sains, selain itu perlu didukung oleh stakeholder lain, termasuk media. Kalau awak media saja tidak tahu, tentang nuklir misalnya, bagaimana dengan masyarakat?“ ujarnya saat Seminar Media , Science Communication bertajuk Membangun Masyarakat Indonesia Berbasis Ilmu Pengetahuan, di Hotel Amos Cozy, Jakarta, Kamis (2/11).

Menurut data Kemenristekdikti periode Agustus 2016 hingga Agustus 2017, dari sekitar 22 ribu media cetak dan online baik dari dalam maupun luar negeri, hanya 17 persen isu pemberitaan mengenai inovasi nuklir, selebihnya berkaitan dengan isu senjata.  Konsentrasi pembahasan wacana media mengenai nuklir masih terpusat pada krisis nuklir di Semenanjung Korea. Di luar isu senjata nuklir, media memberikan ruang terhadap perkembangan nuklir sebagai energi baru (PLTN), dan inovasi nuklir bidang pertanian, antara lain pembangunan Iradiator Gama Merah Putih.

Data lainnya, netizen dunia dominan membicarakan nuklir di media sosial dibandingkan dengan netizen dalam negeri. Secara total, pembicaraan tentang nuklir di Indonesia hanya sebanyak 5% dari pembicaraan nuklir dalam linimasa masyarakat internasional.  Mayoritas netizen yakin terhadap wacana pembangunan PLTN dalam negeri. Meski begitu, netizen juga memberikan ekspresi antisipasi. Netizen masih menimbang-nimbang terhadap wacana nuklir. Adapun sebagian netizen mengekspresikan kemarahannya (anger) terhadap konflik nuklir antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Melihat fenomena tersebut, Guru besar UI, Ibnu Hamad mengatakan, pentingnya peran media untuk menyajikan berita berdasarkan fakta, yang mengedepankan rasionalitas, bukan emosional. “Disinilah peran media, untuk mengkonstruksikan realitas secara rasional, berdasarkan fakta,  bukan mengedepankan hal-hal imajinatif dan memainkan emosi masyarakat,” ujarnya.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, berbagi pengalaman bagaimana nuklir lebih diterima masyarakat ketika membicarakan manfaatnya dibidang kesehatan dan pertanian, namun sulit jika membicarakan tentang energi. “Nuklir bisa lebih diterima ketika kita bicara manfaatnya untuk kesehatan. Atau pertanian karena hasilnya dapat dirasakan petani. Tetapi untuk energi, itu masih sulit,” ujarnya.

Dikaitkan dengan komunikasi sains, Djarot menceritakan bagaimana mengomunikasikan nuklir bahkan kepada peneliti yang masih meragukan keamanan teknologi nuklir. “Kita akan membangun Reaktor Daya Eksperimental di Serpong, dengan daya yang lebih kecil daripada reaktor riset yang sudah ada sekarang. Ternyata yang ditemukan tidak hanya bagaimana meyakinkan masyarakat, bahkan peneliti fisika yang berkantor di dekat calon lokasi pembangunan reaktor pun masih khawatir,” ujarnya.

Di sisi lain, BATAN telah memiliki 3 reaktor riset yang berada disekitar universitas, hotel, bahkan pemukiman penduduk. Menurutnya, selama ini belum terjadi penolakan dari masyarakat terhadap keberadaan reaktor nuklir didekat tempat tinggal mereka sekalipun mereka tahu resikonya.

“Di dekat reaktor kami, ada hotel, mereka sudah bertahun-tahun berdampingan dengan kami. Tapi ada keyakinan dari mereka bahwa ini (reaktor) aman,” ujarnya.

Gufron melalui seminar ini mengajak media untuk bersama membantu pemerintah membangun masyarakat berbasis ilmu pengetahuan. “Saya ingin mengajak rekan-rekan media disini, untuk menyajikan pemberitaan yang mengedepankan rasionalitas melalui komunikasi sains, agar masyarakat tidak gampang ditipu dan peracya hoax. Ingat, bangsa yang maju adalah bangsa yang terus berinovasi,” pungkasnya

 

Sumber : batan.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *