BPPT , UNESCO dan PII Bangun Kerjasama Roadmap Kerekayasaan Berkelajutan

Selasa, 9 Januari 2018 | 17:12 WIB


BPPT , UNESCO dan PII Bangun  Kerjasama Roadmap Kerekayasaan Berkelajutan

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT, Prof. Wimpie Agoeng Noegroho, saat memberi cinderamata kepada Director and Representatives of Unesco office Jakarta,  Prof. Shahbaz Khan.

Jakarta, RISET-Pro.

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII) dan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization ) menggelar  Engineering Regional Workshop on South – South Cooperation for Strengthening Engineering Standards and Mobility of Professionals, di Jakarta, 2122 Desember 2017.

 

Melalui kegiatan Workshop Internasional  ini, BPPT, UNESCO dan PII melakukan standarisasi kualifikasi perekayasa (engineering) dalam mendorong kerjasama selatan-selatan untuk masa depan keperekayasaan di Asia dan Pasifik.  Hal ini sebagaimana  yang disampaikan oleh Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT, Prof. Wimpie Agoeng Noegroho,  “Melalui workshop ini kita dorong untuk adanya roadmap dalam rangka meningkatkan kualifikasi perekayasa, standarisasi dan kerjasama, serta meninjau ulang keterkaitan kerekayasaan, teknologi, industri dan inovasi dalam mendukung upaya pembangunan berkelanjutan di wilayah Asia dan Pasifik,”

 

Director and Representatives of Unesco office Jakarta,  Prof. Shahbaz Khan menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang hebat, baik secara budaya dan sumberdaya. 

“Bagi UNESCO, Indonesia sangat spesial. Bisa dibayangkan bagaimana pembangunan Candi Borobudur kala itu. Dengan usia setua itu bisa terlihat kokoh sampai sekarang. Dan menjadi wahana edukasi dan sejarah dunia,” tutur Shahbaz Khan  dihadapan  50 peserta dari berbagai Negara  Asia Pasific.

 

Lebih lanjut Shahbaz Khan mengungkapkan bahwa Bali adalah contoh sistem pengairan untuk persawahan yang sejak lama dilakukan masyarakat,  dan kita bisa lihat bagaimana proses engineering dalam hal  pengairan sawah.

“Kedua contoh itulah yang nenjadi salah satu aspek yang perlu kita perhatikan dari pembangunan berbasis engineering. Yakni pentingnya untuk memerhatikan kearifan lokal,” jelasnya.

 

Shahbaz juga berharap terjadinya  sharing ide dan kolaborasi nyata dari pertemuan ini demi  terciptanya   pengakuan, standar dan kompetensi para engineer .

 

 

Sumber :

bppt.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *