JAKARTA, RISET-Pro.

Ikatan Alumni Riset Pro (IASPro) dengan  difasilitasi oleh Project Management Office (PMO) beasiswa Research and Innovation in Science and Rechnology Project (RISET Pro),  menyelenggarakan Konferensi Pertama IASPro dengan tema “Menuju Indonesia Emas melalui Riset dan Inovasi Anak Bangsa.” di Jakarta (30/10/2018).

Dalam Konferensi pertama ini, selain membahas regenerasi peneliti, PMO RISET-Pro  mengingatkan tentang pentingnya bidang penelitian. Mengingat  dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), para peneliti didorong produktif melakukan riset pada 9 bidang prioritas, yaitu, bidang pangan, energi, kesehatan dan obat, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, material maju, kemaritiman, kebencanaan, sosial dan humaniora.

PMO menegaskan, penelitian pada 9 bidang tersebut harus melahirkan inovasi yang bisa diserap industri. Dengan demikian, manfaat dari sebuah hasil riset bisa dirasakan masyarakat.

“Alumni dari Riset Pro harus menjadi SDM yang unggul dan dapat membangun jaringan riset internasional, dan sudah 463 pegawai diberangkatkan ke universitas terkenal di dunia. Dengan mengirim mereka, kami berharap bisa mendekati senior bahkan melebihi,” ungkap Mukhlas Ansori Ketua PMO RISET-Pro, yang juga Direktur Kualifikasi SDM Kemenristekdikti

Atasi GAP

Program RISET-Pro diklaim menjadi salah satu upaya dari Kemenristekdikti untuk mempercepat peningkatan daya saing SDM.  Melalui program ini, para peneliti muda dikirim belajar ke berbagai universitas ternama di luar negeri.  Regenerasi peneliti di Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang di bawah binaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi tersendat. Jumlah antara peneliti yang pensiun dan direkrut tidak ideal. Kondisi tersebut membuat hasil riset di LPNK, baik secara kualitas maupun kuantitas, belum maksimal.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, selain jumlah, usia antara peneliti senior dan junior di LPNK terpaut jauh. Menurutnya, jika tak segera dibenahi, produksi karya ilmiah dari LPNK akan stagnan. LPNK yang berada di bawah binaan Kemenristekdikti antara lain LAPAN, BPPT, BATAN, Bapeten, BIG, BSN, LIPI.

“Kalau pensiun 1.000 diganti 1.000 itu tidak pernah terjadi. Setiap tahun harusnya ada pergantian. Jadi antara yang dulu, pengalaman banyak, dewasa, senior, dengan yang muda ini jauh, sehingga terjadilah gap. Sehingga tak ada transfer ilmu dan pengalaman,” kata Ghufron.

Gap antara generasi LPNK senior dan yang di bawah-bawahnya tinggi sekali. Regenerasi tidak berjalan lancar. Kami mencoba mengatasi masalah ini dengan terus menggenjot kualitas dan kapasitas peneliti muda,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *