Jakarta, RISET-Pro

 

Pada tanggal 30 Oktober 2018 di Harris Vertu Harmoni, Jakarta Pusat, Ikatan Alumni Riset Pro (IASPro) dengan  difasilitasi oleh Project Management Office (PMO) beasiswa Research and Innovation in Science and Rechnology Project (RISET Pro). menyelenggarakan Konferensi Pertama IASPro dengan tema “Menuju Indonesia Emas melalui Riset dan Inovasi Anak Bangsa.” IASPro sendiri bertujuan mewadahi alumni RISET Pro dalam mengembangkan riset bersama untuk menghasilkan riset yang unggul, berinovasi dan dapat memberikan solusi permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Disamping para alumni Karyasiswa RISETPro , Turut hadir Pimpinan 7 LPNK ( BPPT, BATAN, Bapeten, BIG, BSN, LAPAN, LIPI), perwakilan dari Bank Dunia, BAPPENAS, Kementerian Keuangan, serta undangan lainnya.

Dalam sambutannya ,Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. mengatakan Riset Pro merupakan media yang baik untuk peneliti Indonesia melakukan sebuah lompatan inovasi yang mendukung kemajuan bangsa. Dirjen Ghufron juga mengatakan bahwa gap peneliti di Indonesia, terutama dari segi usia, masih tampak menganga. Regenerasi peneliti di Indonesia tidak berjalan baik. Padahal Indonesia sendiri memiliki banyak potensi yang bisa digali dan dikaji.

Richard Horton, editor of the British medical journal The Lancet mengatakan Indonesia adalah sebuah bangsa dengan banyak misteri yang belum terungkap karena banyak peneliti dari LPNK yang belum menulisnya. Riset Pro bisa menjadi salah satu alternatif mengatasi itu” ujar Ali Gufron.

Direktur Kualifikasi SDM, Dr. Mukhlas Ansori,  menyampaikan bahwa kekuatan inovasi merupakan faktor penting dalam meningkatkan daya saing nasional dalam menghadapi persaingan global. Daya saing ini ditingkatkan oleh Kemenristekdikti melalui pembangunan kekuatan inovasi dan penyediaan tenaga kerja terampil yang didukung oleh penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan. Oleh karena itu peran 7 LPNK Ristek dan sumber daya yang dimilikinya di bawah koordinasi Kemenristekdikti sangat penting dalam mendorong peningkatan inovasi secara nasional.

Menurut Mukhlas Ansori,  program beasiswa Riset Pro sangat diperlukan dalam rangka mempercepat peningkatan daya saing melalui peningkatan kualitas SDM, kelembagaan dan pendanaan IPTEK. Sejumlah 463 karyasiswa yang telah diberangkatkan melalui program ini sejak 2013 diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan IPTEK melalui lembaga masing-masing sebagai bentuk pertanggungjawaban setelah menempuh pendidikan di luar negeri.

“Negara yang maju bukan karena sumber daya alamnya, bukan karena peradabannya yang tua. Tapi negara maju adalah negara yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, bekerja keras, dan disiplin dalam melakukan terobosan,” imbuh Ketua PMO Riset Pro.

RISET-Pro merupakan program untuk peningkatan kapasitas sumberdaya LPNK melalui program beasiswa, disamping Program Gelar dan Non Gelar, dalam perjalannya telah lebih dari 167 peneliti dan perekayasa yang juga telah menerima beasiswa non-gelar dalam bentuk training, workshop, dan capacity building di berbagai lembaga riset, universitas dan industri terkemuka dunia.

Hadir Para Pembicara dalam Sesi Konferensi antara lain sebagai Keynote Speaker, Prof. Andrivo Rusydi, diaspora Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Associate Professor of Nanotechnology/Nanoscience di National University of Singapore;  Dr. rer.nat Rahmania Admirasari, M.Sc. dan Galuh Wirama Murti, M.Sc. dari BPPT sebagai pembicara sesi pertama bertema Ketahanan Energi dan Lingkungan; dan Dr. Ahmad Fathoni dan Dr. Ahmad Sofyan dari LIPI sebagai pembicara sesi kedua bertema Ketahanan Pangan. Turut dipamerkan pula 45 poster karyasiswa Riset Pro hasil penelitian yang telah mereka kerjakan selama menempuh pendidikan di luar negeri.

Ketua IASPro tahun 2018-2020, Nugroho Adi Sasongko dari BPPT sebagai wakil dari seluruh alumni, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kemenristekdikti terutama jajaran PMO Riset Pro dan kepada masyarakat Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada karyasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri dan menyampaikan harapan para karyasiswa untuk terus dapat membaktikan ilmu dan tenaga untuk pembangunan Indonesia.

“Ke depannya para alumni program Riset Pro akan turut meningkatkan daya saing negara dengan membangun jaringan penelitian di dalam dan luar negeri yang menghasilkan inovasi-inovasi IPTEK untuk mewujudkan Indonesia emas,” kata Nugroho dalam sambutannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *