Selintas RISET-Pro

Research and Innovation in Science and Technology Project  (RISET-Pro) bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Kegiatan-kegiatan RISET-Pro lebih spesifik menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penelitian dan pengembangan di bidang Iptek, memperkuat kinerja insentif, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Kelembagaan Iptek. Proyek ini merupakan inisiatif Pemerintah Republik Indonesia dengan dukungan Bank Dunia melalui Loan No. 8245-ID.

RISET-Pro berkontribusi pada penguatan sistem Iptek secara keseluruhan serta pada proses pembangunan landasan yang kuat bagi koordinasi antar pemangku kepentingan, pemanfaatan Iptek yang lebih baik, dan pengawasan kebijakan Iptek. Lebih jauh lagi, proyek ini berkontribusi pada penguatan manajerial dari program insentif  penelitian dan pengembangan (litbang).

Penerima manfaat utama dari program ini adalah Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) serta tujuh Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) yang berada di bawah koordinasi Kemenristek, yaitu: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Standardisasi Nasional (BSN), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Proyek ini juga melibatkan kelembagaan Iptek terkait seperti perguruan tinggi, lembaga litbang pemerintah pusat dan daerah, lembaga litbang swasta, lembaga intermediasi dan juga sektor industri dalam rangka memfasilitasi proses transfer teknologi dan inovasi.

Setelah tiga tahun pelaksanaannya pada tahun 2016 RISET-Pro melaksanakan kajian tengah-proyek atau Mid Term Review (MTR) yang menghasilkan restrukturisasi proyek untuk peningkatan efektivitas capaian proyek. Untuk melihat detail restrukturisasi klik disini.

 

Empat komponen kegiatan Riset-Pro 

Komponen 1: Penguatan Sistem Inovasi dan Fungsi Teknologi Transfer

Komponen ini diarahkan untuk pengembangan inovasi dalam pengembangan Science Technology Park (STP), khususnya untuk bidang pertanian dan pangan serta pengembangan Technology Transfer Office (TTO) di LPNK.

Komponen 1 terdiri dari dua sub komponen, yaitu: sub komponen 1.a Penguatan Prioritas Terpilih dan Strategi Inovasi Nasional; dan sub komponen 1.b Penguatan TTO dan Pusat penelitian di Badan Penelitian Terpilih di LPNK.

Komponen 2: Penguatan Insentif Riset

Tantangan utama bagi kegiatan litbang di Indonesia tidak hanya anggaran yang terbatas tapi juga sejauh mana efektifitas kegiatan litbang itu sendiri untuk menghasilkan produk yang inovatif dan bermanfaat bagi negara. Komponen 2 bertujuan meningkatkan sistem yang mengawasi dan mengelola sebagian besar dana riset di Indonesia.

Komponen ini terdiri dari tiga sub komponen yaitu, 2.a Pengembangan Kolaborasi dan Jejaring Iptek dan Inovasi; 2.b Mewujudkan Sistem Informasi Riset yang Relevan; dan sub komponen 2.c Penguatan Sistem Perencaan Anggaran Riset.

Komponen 3: Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia Iptek

Komponen ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Strategi yang ditempuh adalah melalui program Karya Siswa untuk mengikuti Program Gelar (degree) dan Non-Gelar (Non Degree). Program Gelar berupa pemberian beasiswa untuk menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri.  Program Non-Gelar dilaksanakan di perguruan tinggi, institusi riset dan/atau lembaga diklat dan pelatihan profesional di dalam dan luar negeri yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta pada bidang tertentu yang lebih spesifik guna mendukung program penguatan sistem inovasi nasional dan pelaksanaan tugas pokok serta fungsinya di institusi terkait. Program Non-Gelar diselenggarakan dalam bentuk

  1. Tailor made courses yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan tertentu dalam institusi. Kursus tersebut dapat dilaksanakan baik di dalam negeri atau luar negeri.
  2. Off-the-shelf courses merupakan kursus generik yang ditawarkan oleh penyedia pelatihan. Kursus tersebut dapat dilaksanakan baik di dalam negeri atau luar negeri.
  3. Individualized immersion atau mentor training merupakan pelatihan dimana seseorang ditempatkan dalam suatu organisasi untuk belajar pengalaman praktis dengan bekerja bersama seorang mentor. Kursus tersebut dapat dilaksanakan baik di dalam negeri atau luar negeri.
  4. Visiting scholar/researcher yang akan datang ke Indonesia dan mengadakan kelas master untuk trainee yang dipilih. Kursus tersebut hanya akan dilaksanakan di dalam negeri.

Komponen 4: Manajemen Proyek.

Mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Project Management Office (PMO). Komponen 4 terdiri dari lima kategori kegiatan, yaitu koordinasi proyek dan monitoring dan evaluasi. Untuk memperkuat koordinasi, akan dilaksanakan workshop secara regular (3 bulanan) sebagai forum untuk membahas progres pelaksanaan, kendala/tantangan yang dihadapi dan solusi yang disepakati bersama. PMO juga melakukan monitoring dan evaluasi berdasarkan kerangka hasil atau results framework yang ada.

Di akhir proyek, di tahun 2020 dan sepanjang implementasinya, keberhasilan proyek RISET-Pro ini dilihat dari beberapa indikator utama seperti i) Ter-institusionalisasinya reformasi Litbang di LPNK; ii) Meningkatnya jumlah regulasi pembiayaan penelitian bidang STI berbasis SBK; iii) Meningkatnya jumlah staf LPNK dan Kemenristekdikti yang bergelar S2 dan S3 yang dibiayai melalui RISET-Pro; iv) Jumlah S2 yang terlibat dalam penelitian STI yang aplikatif; dan v) Jumlah S3 yang terlibat dalam merancang dan mengelola penelitian STI yang aplikatif.


Diperbarui oleh: Rochsid Tri HP pada Rabu, 22 November 2017 15:26 WIB