Alih Teknologi-linier di LPNK dan Sistem Insentif

Bogor- RISET-Pro,

RISET-Pro Komponen 1.B.3.2. mengadakan kegiatan workshop penetapan kriteria keberhasilan  dan indeks kinerja  utama kegiatan alih teknologi, pada tanggal 9-10 November 2018 di Bogor,  dimana komponen  I.B.3.2 ini sudah sampai ke kegiatan kesimpulan dan saran sehingga diperlukan penyajian hasil dari proses verifikasi dan validasi yang telah dilakukan terhadap regulasi di TTO atau Kantor Alih Teknologi (KAT) yang telah diamati dari bulan April 2018. Kantor Alih teknologi merupakan nama lain dari TTO akan disusun naskah akademiknya bulan Desember 2018.

Menurut Profesor Eriyatno,  HAKI, Sistem Insentif dan Valuasi Teknologi telah dimasukan kedalam draft naskah akademik. “Sistem insentif ini sangat penting untuk memberikan motifasi terhadap para peneliti didalam menghasilkan teknologi yang dapat dikomersialisasikan,” Ujar Profesor IPB ini.

Hasil dari Kajian Komponen  1.B.3.2. RISET-Pro mengungkapkan bahwa Sistem insentif masih belum dilaksanakan dengan baik di LPNK dan bila tidak diperbaiki maka akan menyebabkan penurunan motivasi dalam menghasilkan penelitian. Peneliti harus terus berusaha menghasilkan inovasi teknologi,  dan TTO harus memberikan insentif yang sesuai agar para peneliti tidak beralih menjadi pengusaha.”Peraturan saat ini harus disempurnakan agar peneliti dapat terus menjadi peneliti dan menghasilkan teknologi yang dapat dikomersialisasikan, “ ungkap Ermiya Sofiyessi  Peneliti dari Kementan.

Sistem insentif menjadi  Isu strategis dimana insentif ini menjadi umpan balik untuk para peneliti dan perekayasa didalam mendapatkan income dari hasil penelitiannya. Konflik sering terjadi dan berlarut-larut didalam proses pemberian insentif sehingga perlu Lembaga yang berfungsi untuk memediasi

 

insentif yang diberikan kepada peneliti. Kondisi konflik didalam insentif ini dapat menurunkan motivasi para peneliti didalam menghasilkan teknologi yang dapat dikomersialisasikan. Beberapa catatan penting  dari workshop

  1. Kantor alih teknologi dapat langsung berhubungan dengan industri didalam melakukan komersialisasi sehingga TTO dapat bernegosiasi terhadap royalty teknologi yang dikomersialisasikan. Royalti ini harus memasukan jumlah insentif yang sesuai untuk para penelitinya.
  2. Keberhasilan LPNK salah satunya adalah dengan memberikan sistem insentif yang sesuai untuk para penelitinaya untuk kegiatan operasionalnya. Output yang diharapkan dari sistem insentif adalah jumlah paten, royalty, jumlah pengguna, pendapatan inventor dan infrastruktur di LPNK meningkat. Kesemua ini harus masuk kedalam lingkup kendali didalam manajemen insentif.
  3. Dasar hukum didalam pemberian insentif ini diantaranya adalah Pedoman Alih Teknologi Pertanian kementrian pertanian No.7/Permentan/LB.200/2/2018 telah menunjukan persentasi insentif dari hasil penelitian yang telah dikomersialisaskan dimana hak dari inventor tidak dihilangkan salah satunya adalah insentif yang diberikan. Besaran insentif ini perlu dikasi lebih lanjut agar dapat diterapkan di setiap LPNK.
  4. Pembagian insentif pada LPNK baru dilaksanakan di LPNK BATAN melalui peraturan kepala BATAN No 2 Tahun 2018 perihal pengelolaan kegiatan Riset. Pengaturan kepemilikan HAKI perlu diatur oleh undang-undang agar para inventor tidak saja terlindungi didalam
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *